Selasa, 18 September 2012

Dewi Katyayani Penguasa Jodoh Manusia

 ** Maa-Katyayani **

Dewi Katyayani Penguasa Jodoh Manusia. Dalam beberapa literatur Weda, kita akan menemukan banyak sekali dewa dan dewi yang berpasangan menurut nivid mereka masing-masing. Dalam sastra Weda ini disebut sebagai Swarupa Sakti, dan manusia juga memiliki hal yang sama, jadi dengan singkatnya bahwa setiap yang dilahirkan ke dunia pasti kelak akan menemukan pasangannya sendiri. Atau laki-laki akan berdampingan dengan wanita.


Entah dengan siapa yang jelas manusia hanya mampu berusaha, tapi penentunya tetap di atas, yach... seperti kalimat rempeyek kacang ijo, biar jelek yang penting jodo... Mencari jodoh bukan sebuah perkara mudah. Harus sesuai dengan kelahiran kita, sesuai dengan selera kita, yang paling penting dapat menerima kekurangan kita agar kelak tidak sering terjadi percekcokan.

Dalam beberapa kitab Purana, dewa yang mengatur pertemuan manusia ini dan itu yang sangat berkaitan dengan asmara adalah Dewa Kandarpa atau Sang Hyang Semara. Namun dalam beberapa kitab Sruti dan kitab Nibandha yang lainnya,  ada sosok Dewi yang menjadi pengatur, kapan wanita itu menemukan suaminya, kapan wanita itu berjumpa dengan pujaan hatinya, atau kapankah wanita itu bertemu dengan pasangan hidupnya.


Nama beliau adalah Dewi Katyayani. Di Bali nama beliau sangatlah asing dan hampir sebagian besar umat Hindu Bali jarang memuja beliau sebagai Dewi Jodoh. Pasalnya fungsi beliau sendiri sudah digantikan oleh Bhatara Semara untuk masalah asmara manusia. Namun dalam kitab Weda perlu kita ketahui bahwa jika seorang gadis yang umurnya dipandang sudah cukup layak untuk menikah, namun tidak satupun laki-laki yang datang menghampirinya, maka wanita itu dibenarkan untuk memohon kepada Bhatari Katyayani untuk mendapatkan suami.
Ada banyak versi mengenai cerita munculnya Dewi Katyayani ini. Ada sumber yang menyebutkan bahwa beliau adalah putri dari Maharesi Kata, oleh sebab itu beliau diberinama Dewi Katyayani. Ada juga yang menyebutkan beliau adalah bagian dari ekspansi penuh atau bagian dari bentuk paripurna Maha Durgha yang lebih dikenal orang dengan nama Mahisasura-mardhini.
Jika kita merujuk pada difinisi ini, maka beliau tidak lain tidak bukan adalah bagian lain dari Maha Durgha, yang merupakan sakti Bhatara Siwa yang tentu saja merupakan Dewata Penguasa Cinta dan Asmara. Setiap literatur Hindu mengagungkan Bhatara Siwa sebagai Dewatanya Asmara, Cinta dan bahkan dalam beberapa fase Bhatara Siwa dan Bhatari Parwati diidentikkan dengan seks.
Jika Dewi Katyayani merupakan bagian penuh dari bentuk paripurna Maha Durgha, maka kita akan menemukan seluruh atribut dan lambang kebesaran Maha Durgha juga menyertai atribut Sang Dewi Katyayani. Inilah fakta yang sejati, bahwa di setiap kuil yang di bangun untuk memuja Dewi Katyayani, maka atribut Maha Durgha juga disertakan secara utuh.
Namun meskipun demikian, tampilan wajah beliau sedikit lembut dan ayu. Layaknya Dewi Cinta yang menebarkan pesonanya kepada siapapun juga. Di India sendiri, terdapat sebuah tradisi yang disebut dengan Katyayani Vrata, atau sebuah ajang dimana anak-anak gadis yang masih belum memiliki pasangan hidup berdoa dan berpuasa untuk menyenangkan hati Dewi Katyayani dan berharap akan menemukan laki-laki yang mereka cintai untuk menjadi suami mereka.
Mereka mempersembahkan bunga, dupa dan buah dan tidak jarang juga bagi ibu-ibu atau wanita yang sudah memiliki suami, mereka melakukan puasa untuk keselamatan serta berdoa agar suami mereka panjang umur. Di Bali tradisi semacam ini tampaknya sudah mulai hilang, jika dahulu Katyayani lebih identik dengan sebuah kesetiaan istri pada suaminya, dan kini tampaknya kesetiaan itu harus dipupuk lagi, sebab banyak sekali kasus perselingkuhan yang terjadi belakangan ini.

Dalam kitab Ramayana, sewaktu Maharaja Janaka, seorang raja yang memerintah di negara Waideha tengah mengadakan sayembara untuk mendapatkan mantu, maka pujian Dewi Katyayani terdengar sangat agung. Banyak raja dan pangeran datang untuk mendapatkan Dewi Sita, putri Janaka. Namun dengan satu syarat, bahwa mereka harus mampu mengangkat busur Siwa dan membentangkan talinya.

Sebelum sayembara berlangsung, Dewi Sita datang ke kuil Dewi Katyayani dan berdoa kehadapan Maha Dewi berharap menemukan jodoh yang beliau idamkan, yakni Rama. Dewi Sita mencuci kaki sang ibu Dewi dengan air mata-nya dan beliaupun berkenan untuk memberikan Rama sebagai suami. Keesokan harinya ketika sayembara berlangsung, semua yang hadir tampak seperti tidak berdaya.
Sebab tidak satupun diantara mereka yang mampu mengangkat busur Siwa apalagi membentangkan dawai panahnya. Akhirnya tampillah Rama dengan enteng beliau mengangkat busur itu persis seperti anak kecil memungut jamur di tanah. 

Soraak gembira terdengarlah dan Rama bersatu dengan Sita. Gadis-gadis lain mengikuti jejak Sita, bahkan Dewi Draupadi sendiri berdoa kepada Dewi Katyayani untuk mendapatkan suami yang bijaksana, kuat, tampan, berwibawa dan penurut. Akhirnya Pandawa Lima datang sebagai jawaban doa Draupadi.

Dewi Rukmini juga melakukan hal yang sama. Dan ini tampaknya ditiru oleh banyak gadis di dunia untuk mendapatkan suami mereka. Tradisi ini berkembang hingga ke manca negara, namun dengan nama yang berbeda. Tampaknya sekarang beliau lebih dikenal dengan Dewi Fortuna, dan alangkah bijaksananya jika kita sendiri mengembangkan ini di tanah Bali. Sebab apa, wanita yang saleh akan baik jika mendapatkan laki-laki yang saleh juga. 

Untuk itulah, bagi pembaca yang budiman yang belum memiliki pacar, jodoh dan juga sampai kepala uban belum juga menikah lantaran sama sekali tidak bisa mencari, atau tidak berani merayu gadis atau karena ngekoh ngalih, maka jangan patah semangat. Bangkitlah dan imbangi dengan doa kepada Sang Hyang Katyayani. Niscaya apapun yang kita lakukan akan berhasil baik.
Sumber bacaan Buku Sang Hyang Purana karya Gede Agus Budi Adnyana, S.Pd.B. Ditulis dalam blog rare-angon nak bali belog.
Insert Picture Maa-Katyayani http://www.totalbhakti.com

Jumat, 14 September 2012

Si GOBLOK | Catatan Perjalanan Orang Gila |

BUKU THE FOOL " SI GOBLOK "

Si GOBLOK - Catatan Perjalanan Orang Gila . Buku karya Anand Krishna yang merupakan sebuah catatan perjalanan pencarian jiwa tentang kesadaran yang lebih tinggi atas cinta dan kebahagiaan sejati. Bahasanya sungguh sederhana, namun sangat universal dan penuh makna. Beragam ekspresi Guruji telah menjadikan 'The Fool' sebuah catatan perjalanan yang sangat unik.


Kala ini tahu, selanjutnya tidak tahu;
Kala ini sadar, selanjutnya tidak sadar...
Berlalunya waktu adalah gabungan keduanya, hanya sesaat, tak abadi;
Tahu dan sadar, keduanya hanyalah tipu daya ....

Catatan perjalanan ini amatlah berbahaya dan bersiko tinggi. "Kewarasan" Anda taruhannya.

 Jadi, janganlah lanjutkan jika Anda belum siap mengambil resikonya. Saya harus memperingatkan Anda, dan ini peringatan orang gila --- orang gila bisa menjadi cerdik namun tidak pernah berdusta. Catatan ini amat sangat provokatif dan bisa langsung memicu kegilaan.
Ingat: waspadalah !

Diawali dari catatan penulis mengunjungi seorang wanita renta 'The Tarot Card Reader', Pembaca Kartu Tarot paling ulung se-Indonesia. Ia membuka halaman buku 'The Pictorial Key to the Tarot'  oleh W.E. Waite. ia membuka halaman berjudul: "The Fool." Saya telah menunggumu. Saya menunggu Si Goblok. Dan, ya, Si Goblok ini tepat di hadapanku. Kemarilah, baca ini : ...........

Sandiwara Mental

Uang, materi dan pikiran - menurut Buddha, Yang Terbangkitkan - adalah "benda". Dan, seperti benda lainnya memiliki awal dan akhir. Semua itu hanyalah temporer, sementara.

Kita berinteraksi dengan ketiganya, dan mendapatkan kenikmatan dari interaksi ini. Akan tetapi, kenikmatan pun hanya temporer, sementara. Kenikmatan pun tidak bertahan lama. Kinikmatan pun tidaklah abadi.
Lalu, kita pun kecewa.

Padahal, kita sebenarnya mencari kebahagiaan abadi. Kita mencari kebahagiaan spiritual. Kita tidak pernah bahagia, tidak pernah terpuaskan oleh kenikmatan inderawi yang memang hanya sementara.

Sayangnya, banyak dari kita tidak menyadari hal ini. Kita tidak menyadari kesalahan kita sendiri, harapan dan ekspektasi yang salah. Bagaimana bisa merasakan kebahagiaan abadi dari materi atau benda yang tidak abadi ?

Inilah yang menjadi alasan ketidakbahagiaan kita, kekhawatiran kita, stres dan depresi. Kita senantiasa mencari kebahagiaan namun hanya segelintir yang menemukan kebahagiaan itu. Kenapa ? Karena mereka yang segelintir ini mencari kebahagiaan di tempat dan sumber yang tepat. Kebahagiaan itu lebih bersifat rohani dan oleh karena itu, harus ditemukan di dalam ruh, dari dalam diri masing-masing. Kebahagiaan tidak bisa dicari di luar diri, dari benda-benda luar.

Kebahagiaan bukanlah benda. Bukan pula materi. Kebahagiaan itu energi 100% dan 24 karat. Ups, tetapi energi dan materi itu relatif; keduanya dikaitkan oleh hukum relativitas yang diteorikan oleh Albert Einstein. Jadi ?

"Pemahaman yang benar, kawan, "si wanita tua memotong, " seseorang harus memiliki pemahaman yang benar akan sifat dasar segala hal. 

Tubuhmu hanya sementara, begitu pun juga dengan benda-benda di sekitarmu, bahkan jiwamu pun hanya sementara. Semua yang kamu bahas, dan siapapun yang kamu ajak obrol - dua-duanya hanya sementara."

"Kamu hanya sementara, saya pun demikian. Jiwa dan ruh pun hanya sementara." 

"Jadi, nikmatilah kesementaraan untuk sementara waktu. Jangan harap kesementaraan dapat berlangsung untuk selamanya. Ketika saya memahami ini, saya merasakan sesuatu yang saya sebut kebahagiaan. Tetapi, jujur saja, saya lebih suka menyebut perasaan ini tanpa nama. Saya tidak mau mendefinisikan. Karena, memang saya tidak bisa mendefinisikannya."


Upanisad, esensi dari Veda, kitab suci umat manusia ini mendefinisikan ananda atau kebahagiaan sebagai berikut : Seperti mengharapkan orang dungu yang menjelaskan manisnya gula.

Bahkan orang tercerdas pun sulit menjelaskan rasa manis gula. Jadi, mereka yang sudah merasakan kebahagiaan akan tetap diam. Mereka yang belum merasakan biasanya petatah-petitih menggambarkan kebahagiaan itu.

Untuk lebih jelas dan lebih dapat memahami, mohon untuk membaca Buku Si Goblok ini yang mana terdiri dari dua bahasa, Si Goblok dengan format bahasa indonesia dan The Fool dalam bahasa inggris namun hanya dalam satu buku (bolak-balik). Selamat Membaca !

Ditulis dalam blog oleh Rare Angon Nak Bali Belog ...

Sabtu, 08 September 2012

Sivalila

**PETIRTAN PENGLUKATAN**

SIVALILA. Kitab-kitab Purana menyebutkan  64 Lila atau aktivitas yang memberikan kebahagiaan kepada para dewa dan umat manusia, yang dilakukan oleh Sanghyang Siva, sebagai berikut :

  1. Membebaskan dosa dewa Indra
  2. Membebaskan dosa Airavata
  3. Membangun Madhurapura di hutan Kadamba
  4. Sri Parvati lahir sebagai Tataka
  5. Pandyadewa mengawini Tataka
  6. Menari di hadapan rsi Patanjali
  7. Kundodara dianugrahi kekuatan untuk mampu memakan banyak nasi
  8. Memadamkan rasa lapar dan harus dari Kundodara, makan nasi dan minum air sungai Vaiga
  9. Membawa 7 samudra ke tempat yang dekat dengan saktinya
  10. Membawa Malayadhvaja dari Devaloka ke bumi
  11. Menurunkan putra bernama Ugra
  12. Ugra memperoleh anugrah Trisula
  13. Memindahkan laut dari sisinya
  14. Memecahkan mahkota dewa Indra
  15. Ugrapandya diberi hadiah emas dari gunung Mahameru
  16. Mengajarkan para maharsi tentang arti Veda
  17. Menjual permata kepada seorang raja untuk mahkota
  18. Menjadikan mendung minum air laut
  19. Menyetop turunnya hujan
  20. Menunjukkan kemahiran realisasi
  21. Membuat gajah dari batu dapat minum air gula aren
  22. Membunuh seekor gajah yang dikirim oleh seorang Sannyasin Buddha yang melakukan BlackMagic
  23. Memberikan karunia kepada seorang gadis Brahmana
  24. Menciptakan bermacam-macam tarian

Artikel Umat Hindu