Selasa, 24 Januari 2012

Mepandes, Metatah, Mesangih, Potong Gigi, Manusa Yadnya

Sadripu adalah enam musuh yang ada dalam diri manusia yaitu Kama;keinginan, Kroda;kemarahan, Lobha;serakah, Moha;kebingungan, Matsarya;dengki/irihati, dan Mada;mabuk.


Potong Gigi Massal
Dalam menjalankan Swadharma kehidupan di dalam agama Hindu berbagai kegiatan kerohanian/ yadnya yang wajib dilaksanakan umat Hindu dalam segala manifestasinya untuk menuju/ mencapai jalan yang luhur kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa (Brahman).
Salah satu dari berbagai kegiatan Yadnya (Panca Yadnya) yang dilaksanakan umat Hindu adalah Manusa Yadnya yaitu Upacara Mepandes atau Metatah atau Mesangih atau Potong Gigi yang merupakan kegiatan sakral bagi umat Hindu.

Jadi Upacara Potong Gigi ini sudah dilaksanakan sejak dahulu kala dan terus berkembang sampai saat ini dengan peningkatan pengertian filsafatnya dan diarahkan kepada keagamaan, sejak kedatangan Hinduisme di bumi Ibu Pertiwi Nusantara (Indonesia). 


Adapun pengertian Potong Gigi bagi umat Hindu adalah :

- Untuk merubah prilaku agar mampu mengendalikan diri dari godaan Sadripu untuk menjadi manusia sejati, yang menurut " Lontar Tutur Kamoksan " adalah sebagai Manusia nantinya bisa bertemu dengan orang tuanya di Alam Paratra setelah meninggal dunia.
- Menjalankan kewajiban Leluhur terhadap anaknya yang menurut " Lontar Puja Kala Pati " pada dasarnya untuk menemukan hakekat manusia sejati.

Upacara Potong Gigi bertujuan dan mempunyai filsafat sebagai berikut :
1. Sebagai salah satu bentuk untuk membayar hutang budi kepada leluhur. Manusia dalam hidupnya mempunyai tiga hutang budi yang disebut Tri Rnam dan salah satu diantaranya adalah Pitra Rnam yaitu hutang budi kepada orang tua (leluhur) yang menyebabkan manusia lahir, jadi untuk membayar hutang budi kepada leluhur harus dibayar dengan memelihara dan mengupacarai keturunannya ( pari sentana ).
2. Merupakan suatu simbolis untuk melenyapkan atau mengendalikan hawa nafsu yang disebut Sadripu adalah enam musuh yang ada dalam diri manusia yaitu Kama;keinginan, Kroda;kemarahan, Lobha;serakah, Moha;kebingungan, Matsarya;dengki/irihati, dan Mada;mabuk.

Pada upacara Potong Gigi juga diadakan persaksian kepada Sanghyang Widhi dalam prabawanya sebagai Sanghyang Semara Ratih yang merupakan perlambang/simbol dari pada keinginan seperti cinta kasih yang tumbuh kembang pada setiap insan yang menginjak dewasa yang memerlukan pengendalian diri agar tidak terjerumus dalam nafsu keinginan yang berlebihan.

Pustaka Lontar yang berkaitan dengan Upacara Potong Gigi adalah :
1. Lontar Dharma Kahuripan yang memuat tentang Manusa Yadnya baik mengenai upacara maupun upakaranya menurut tingkat Kanistama, Madyama dan Utama termasuk Upacara Potong Gigi yang di sebut Atatah ( Jaman Empu Kuturan abad XI )
2. Lontar Siwa Ekapratama Samapta yang memuat tentang Manusa Yadnya yang berkembang di jaman Dang Hyang Dwi Jendra abad XVI.
3. Lontar Puja Kala Pati yang memuat tentang asal mula orang melaksanakan Upacara Potong Gigi sebagai petunjuk dari Bhatara Siwa kepada manusia agar nantinya menemukan hakekat manusia sejati itu demikian juga mengenai tata cara dan upacara Potong Gigi.
4. Lontar Puja Kalib tentang Puja dan Mantra yang digunakan oleh Sulinggih dalam memimpin Upacara Potong Gigi.
5. Lontar Jadmaphala Wreti tentang pelaksanaan Upacara Potong Gigi.

Makna setiap tahapan kegiatan dalam Upacara Potong Gigi.
Berdasarkan ketentuan dalam Pustaka Lontar Kahuripan dan Pustaka Lontar Puja Kala Pati bahwa tahapan atau prosesi Upacara Potong Gigi adalah sebagai berikut :
1. Magumi Pedangan ; yaitu mohon tirtha penglukatan pada Bhatara Brahma yang dilakukan di dapur, DANGAN artinya dapur. Upacara ini mengandung makna bahwa orang yang diupacarai itu nantinya tidak lepas dari urusan dan bertanggungjawab soal dapur.
2. Mabyakala ; yaitu dilaksanakan di halaman rumah untuk Sang Bhuta Dengen. Makna upacara ini untuk membersihkan pengaruh-pengaruh negatif yang melekat pada diri.

3. Ke Sanggar Pemujaan ( Rong Tiga / Kawitan) ; yaitu mohon restu dan panugrahan kepada Bhatara Hyang Guru sekaligus permakluman pada leluhur bahwa mereka akan melaksanakan Upacara Potong Gigi dan Minum Tirtha Wasuhpada sebagai tanda telah memperoleh restu.


 Memberikan labahan dalam bentuk Caru Ayam Petak tanpa Sanggah Cucuk kepada Sang Anggapati ( Saudara tua dari catur sanak ) sebagai simbolis untuk mohon agar mereka menjaga orang yang melakukan upacara Potong Gigi yang berarti guna mengharmoniskan hubungan Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit pada diri mereka. Selanjutnya memahat Taring dan Ngerajah gigi. 

Ngerajah dengan bungan Teratai putih atau cincin emas bermata mirah warna merah. Memahat taring dan ngerajah gigi ini dengan aksara Suci bermakna agar yang diupacarai mampu untuk mengendalikan pikiran, bathin, keinginan dan perbuatan mereka dalam kehidupan ini agar menemukan hakekat manusia sejati itu. Terakhir adalah sungkeman terhadap orangtua, dalam acara sungkeman ini ada piteket /nasehat orang tua ( ayah dan ibu ), kemudian anak mohon restu kepada kedua orang tuanya.

4. Naik ke Bale tempat Potong Gigi; Sebelum Potong Gigi terlebih dahulu menyembah (Muspa) di Bale Gading kepada Sanghyang Semara, mohon Tirtha untuh mesangih.

Mereka yang akan Potong Gigi naik hilir ke hulu, disuruh tidur tengadah. Badannya sampai kaki ditutup kain (rurub). Sikap tangan diletakkan diatas dada dialasi Kekasang dan kaki terkujur rapat. Gigi yang dipapar adalah empat buah gigi seri dan dua buah taring, kiri kanan pada rahang atas. Memapar enam buah gigi maknanya menekan Sadripu (enam musuh pada diri) secara simbolis. Sadripu tidak bisa dihilangkan semasih manusia hidup tetapi bisa ditekan atau dikendalikan apabila bathin telah suci. 

Kemudian mulai memasang pedangal (singsang) gigi. Yang pertama pedangal dari kayu dapdap dipasang pada rahang atas sebelah kiri untuk perempuan dan yang kedua pedangal dari kayu dapdap pada rahang atas kanan untuk laki-laki. Sedangkan dari tebu, bebas kanan-kiri hingga memapar selesai. Yang pertama kali dipapar dengan kikir pada rahang atas ini adalah taring dulu baru kemudian empat buah gigi seri dikerjakan sampai selesai.
Air ludah dan pedangal yang telah dipakai dimasukkan ke kelapa gading. Gigi yang sudah dipapar itu lalu digosok dengan pengurip gigi dari kunir dan diberi pengancing dengan menggigit base/sirih lekesan tiga kali. Bekas base lekesan itu juga dimasukkan ke kelapa gading. Makna pengurip gigi dan pengancing ini adalah lambang agar Panca Dewata menjaga kehidupan mereka yang melakukan upacara Potong Gigi.
Kemudian turun dari tempat metatah dari hulu ke hilir selanjutnya menginjak banten peningkeb. Banten peningkeb bermakna sebagai suatu sarana yang bersangkutan mengharmoniskan diri dengan alam atau Ibu Pertiwi termasuk Sang Catur Sanak yang di ajak lahir.

Pemujaan oleh Sulinggih  Ida Pedanda mapuja, yaitu dalam rangka mempermaklumkan kepada Sanghyang Widhi dalam prabawa Sanghyang Semara Ratih dan Leluhur bahwa Upacara Potong Gigi telah dilaksanakan.


Kambil saking Laporan Pertanggungjawaban Kegiatan Potong Gigi Massal Banjar Suka Duka Ciledug, Pengemong Pura Dharma Siddhi, tanggal 25 Desember 2011, diposting oleh Rare Angon Nak Bali Belog.

5 komentar:

  1. Sungguh kaya kebudayaan bangsa Indonesia yaah hehehe ... :)
    Salam Lestari Buana Nusantara sobat... mksh atas kunjungannya.... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih kawan, kita dikelilingi oleh ratusan Budaya baik yang berkaitan dengan Agama, atau Budaya dalam hidup bermasyarakat, yang diwariskan nenek moyang ... selamat berkarya

      Hapus
  2. Informasi yang disajikan oleh bli ini tentunya sangat membantu arti dan makna pelaksanaan upacara metatah di Bali. Ayo generasi muda bali bangkit dan lestarikan upacara keagamaan hindu di Bali jgn samapi punah

    BalasHapus
  3. Bli, tiang jagi metaken.
    Apakah upacara mepandes untuk seorang berkasta yang telah menikah nyerod dapat diupacarai oleh keluarga mertua?
    Suksma.

    BalasHapus
  4. Bli/Mbok Anonim Yth.
    Menurut tiang; secara klen tentunya tidak boleh, klen hubungan keluarga, antara golongan Brahman dengan yang lain. Artikel klen bisa dibaca disini : http://www.rare-angon.com/2013/10/brahmana-ksatrya-wesya-sudra.html

    Namun secara agama, mepandes memiliki makna yang dalam untuk diri kita pribadi, dan dapat dilaksanakan oleh siapa saja (sangging) dari golongan mana saja untuk siapa saja (pada golongan apa saja). Seperti pada kegiatan Metatah masal, dimana sangging (yang natah) dapat melaksanakan upacara setelah mendapat restu dari Manggalaning Upacara (pandita).

    Niki menurut tiang, namun apabila ada yang memberikan masukan, sangat tiang harapkan. suksma. Admin

    BalasHapus

Buku Tamu

Artikel Umat Hindu