Bhagawan ( Maha Resi ) Carabhangga

Kamis, 04 Agustus 2011

Bhagawan ( Maha Resi ) Carabhangga


Rama Purusothama

Bhagawan Carabhangga adalah orang suci yang telah mencapai Moksa, selain itu terdapat; Bhagawan (Maha Resi) Byasa atau Wyasa atau Kresna Dwipayana yaitu putra Bhagawan Paracara dengan Dewi Sayojana Gandhi ( Satyawati), Sang Dharmawangsa (Yudhistira), Panca Pandhawa yang sulung, putra Pandhu dengan Dewi Kunti, Sang Budha (Budhha Siddharta Gautama) Putra raja Cuddodhana dengan Dewi Mahamaya, raja suku bangsa Sakhya beribukota di Kapilawasta (Kapilavatthu), Sang Gagang Aking-Sang Bubuksah, Empu Kuturan, Empu Bharadah,

 Shri Kresna salah seorang awatara Wisnu putra Prabhu Wasudewa dengan Dewaki, raja Dwarawati, Dukuh Sogra, Danghyang Dwijendra atau Padanda Cakti Wawu Rawuh - Padanda Cakti Wawu Dateng - Danghyang Nirartha - Tuan Semeru - Pangeran Sang Utpati, Sang Kulputih (Sang Kul Pinge) yaitu Pamangku di Pura Besakih, Rajapala dalam cerita Durma, Bhagawan Bhagaspati dalam wira carita Mahabharata dan Dukuh Blatung dalam Babad Pinatih.

Menurut Kita Kakawin Ramayana, dijelaskan keadaan Bhagawan ( Maha Resi ) Carabhangga yang telah mencapai Moksa. Diceritakan pada waktu Sang Rama, Sita dan Laksmana,
sedang mengembara di hutan dan gunung Citrakuta, masuklah beliau ke pesraman Maha Resi Atri, kemudian meneruskan perjalanan ke hutan raya Dandhaka.

Bertemulah beliau dengan Raksasa yang dahsyat dan mengerikan, berjalan sungsang, kaki diatas dan tangan dibawah, takutlah musuh-musuhnya.
Raksasa itu bernama Wirada ingin segera membunuh. Dengan senjata kuku yang tajam serta mulut menganga lebar ia datang menyerang karena menganggap Rama dan Laksama orang lemah tanpa kekuatan atau kesaktian.

Rama dan Laksmana maju dan secepat kilat masing-masing menangkap kaki raksasa Wirada itu lalu dibelah ( disobek ) maka matilah raksasa Wirada dengan badan terbelah dua.


Setelah itu Rama dan Laksmana mengembara tiada bahaya mengancamnya, lalu masuklah beliau ke suatu pasraman yang asri, indah berwibawa, pertapaan Bhagawan Carabhangga. sang Bhagawan adalah seorang yogi yang telah berhasil semadhinya, sehingga dapat mengetahui keadaan di niskala serta tahu akan keparamarthan ( Moksa ).

Setelah bertemu dengan Rama dan Laksmana maka mohon dirilah Bhagawan Carabhangga untuk Moksa dan berkata :

 

 " Tuanku ialah Rama, putra seorang raja, hamba mohon diri untuk kembali ke alam niskala, yaitu Moksa; berbahagialah hati hamba dapat bertemu dengan uanku di tempat ini, Tuanku adalah Narayana, penuntun dunia yang agung. Tuanku, tiada jauh dari sin terdapatlah suatu asrama pertapaan seorang Yogi Sutiksna namanya yang dapat dijadikan sahabat baik, tempat berlindung ."


Setelah berkata demikian maka Sang Pertapa Bhagawan Carabhangga melaksanakan yoga semadhi, keparamarthan, maka keluarlah api dharana, yang lahir dari pemusatan pikiran yang tunggal lalu membakar badan jasmani Sang Bhagawan hingga sirna Moksalah Bhagawan Carabhangga tanpa jasad.

Sumber " Buku Pedoman Sederhana Pelaksanaan Agama Hindu Dalam Masa Pembangunan " Disusun oleh : Panitya Tujuh Belas di Jakarta  1986 . Di posting oleh : Rare Angon Nak Bali Belog

2 komentar :

Buku Tamu

BTemplates.com



Categories

108 Mutiara Veda 3d impressions Agama Hindu Ahimsa Ajaran I Balian Putus Ajeg Bali Kesejahteraan Semu Ajeg Hindu Aji Kalepasan Aku wis nang jogja Alam Setelah Kematian Ampas Kehidupan Anak Hindu dan Gadget apara bhakti asubha karma Aswatama Atma Prasangsa AtmaTatwa Audio Satua Bali Badan Astral Badan Etheric Badan Mental Bahasa Bali Bahasa Sansekerta Bali Banjar Ciledug Banjar Rempoa Banjar Serang Banjar Tangerang Selatan Banten Banyu Pinaruh ke Segara Basa Basi Bali Beras merah putih Berfoto di Jalan Malioboro Bermeditasi dengan Mantram Gayatri Bhagavad-gita Bhagawan Byasa Bhagawan Carabhangga Bhagawan Saradwan dan Bidadari blog provokator Brahman Budaya Bali Budha Kliwon Bukan SORGA bukan NERAKA Bumi Manusia Bunga teratai Candi Borobudur catatan perjalanan Catur Asrama Catur Warna Catur Yadnya Cupak teken Grantang Da Nakonang Adan Tiange Dewa Yadnya dharma sidhi Doa Keselamatan Dresta Sima Agama Festival Wayang Internasional Gde Aryantha Soethama gitabali Hari Raya Galungan Hari Raya Nyepi Hari Suci Kuningan Heneng dan Hening Hindu Agama Terbesar di Dunia Hindu Jalan Dharma Hindu Menjawab Hukum Alam Hukum Karma I Rare Angon Istadewata Jalan Setapak Menuju Tuhan Jaman Kaliyuga jasa 3d profesional Jiwa itu adalah Brahman Jujur dan Terus Terang Kakawin Jawa kalender Bali 2017 Karma Keadilan Tertinggi Kebahagiaan Bukanlah Reaksi Kematian Kembali Lagi Sains Reinkarnasi Ketenangan Pikiran Ki Nirdon Kisah Mahabarata Kitab Sumber Abadi Tentang Reinkarnasi Kumpulan Dongeng Hindu liburan dibali Lontar Potong Gigi Manusa Yadnya Meditasi Matahari Terbit Mengapa Bali disebut Bali Merajut Ulang Budaya Luhur Bangsa Mulianya Ajaran Hindu Neraka Ngaben Ngiring Mebasa Bali Pan bagia Teken Pan Bonggan Pancaran Dharma Pandawa dan Kurawa pantai carita Pantai Salira parahyangan agung jagatkartta Pariwisata Bali Sejak 1839 Pathways to God Perang Bali Perang Puputan Perempuan dalam dunia kakawin Pidarta Basa Bali Pulau Bali Temuan yang Menakjubkan Raina Saraswati Rare Angon Rare Angon dan Catur Yajna Rare Angon Nak Bali Belog Renungan Sabda Sathya Sai Sai Baba Sang Hyang Wisnu Saniscara Keliwon Wariga Saniscara Umanis Watugunung Sarana Ngaben Sarasamuccaya Satua Bali Satua Mabasa Bali Satua Mebasa Bali Sorga Sri Krishna Sri Sadhana Taman Kanak-kanak Hindu Tat Twam Asi tembang bali the Greatest Religion in the World tips ke baduy Tirtha Amerta Tri Hita Karana Tumpek Uduh Upanisad Himalaya Jiwa Veda Sabda Suci Wacana Suci Bhagawan Sri Sathya Sai Baba Watugunung Runtuh Wayang Beber Wayang Bunraku Wayang Kheimed Shad Wayang Trenggano Cendayu Wuku Wayang Yayasan Sri Sathya Sai Baba Yayurveda yoga