Sabtu, 22 April 2017

Sambutan Presiden RI pada Acara Dharma Santi Nasional


Sambutan Presiden RI pada Acara Dharma Santi Nasional

Jakarta, 22 April 2017

Om Swastyastu
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Salam Sejahtera Bagi Kita Semua,

Pada pagi yang cerah ini, saya ingin menyampaikan rasa angayubagya karena bisa ber-simakrama dengan umat Hindu dalam acara Dharma Santi untuk merayakan hari raya Nyepi dan meyambut tahun baru Saka 1939.

Joko Widodo
Presiden Kita 
Teriring salam saya kepada seluruh umat Hindu, di seluruh pelosok tanah air, disertai dengan ucapan selamat hari raya Nyepi, dan juga selamat hari raya Galungan dan Kuningan.
Semoga, perayaan Nyepi yang waktunya berdekatan dengan hari raya Galungan dan Kuningan bisa memberikan keheningan jiwa, rasa Shanti atau kedamaian dan juga Jagadhita atau kesejahteraan bagi kita semua.

Hadirin yang saya hormati,
Hari raya Nyepi memiliki makna yang  sangat penting bagi umat Hindu.
Karena dalam momen Nyepi itulah, Umat Hindu menjalankan catur beratha penyepian sebagai bagian dari upaya pembersihan diri, bhuwana alit dan juga alam semesta atau bhuwana agung.

Dengan menjalankan catur beratha penyepian, umat Hindu menyambut tahun baru Saka dengan semangat yang baru dengan jiwa  yang  damai, yang lebih harmonis sesuai dengan nilai-nilai Tri Hita Karana.

Dalam Tri Hita Karana, umat Hindu diajarkan bahwa Srada Bhakti pada Tuhan harus juga diwujudkan dengan menjaga keharmonisan dengan sesama serta menjaga hubungan harmonis dengan alam yang semuanya diciptakan oleh Brahman, Penguasa Jagad Raya.
Umat Hindu juga diminta untuk selalu memegang teguh ajaran Wasudewa Kutum Bhakam, kita semua bersaudara, yang menekankan arti penting persaudaraan yang sejati karena kita semua berasal dari sumber yang sama yakni dari Tuhan yang Maha Esa.

joko presiden RI
Presiden Joko Widodo
Tri Hita Karana juga mengajarkan kepada umat Hindu bahwa Srada bhakti pada Tuhan juga harus bisa dimanifestakan dalam tindakan nyata menjaga dan melestarikan alam di sekitar kita. 

Kita telah banyak mengambil dari alam… untuk  dimanfaatkan menjadi sumber kehidupan kita. Dan sudah saatnya kita juga membayarnya kembali dengan cara menjaga dan melestarikan alam. Hanya dengan cara itu kita semua akan mendapatkan kehidupan yang harmonis, Shanti dan Jagadhita.

Hadirin yang saya muliakan,
Membawa kembali kesadaran baru tentang makna   menjaga keharmonisan serta persaudaraan sejati ini sangat penting dalam kehidupan kita, dalam berbangsa dan bernegara. 

Sebagai bangsa yang majemuk, kita memiliki  714 suku, bahkan data BPS menyebutkan sekitar 1.340 suku, kita juga mempunyai beragam ras, beraneka ragam bahasa daerah dan juga berbeda-beda agama.


Perbedaan latar belakang suku…latar belakang agama… latar belakang budaya… bukanlah penghalang bagi kita untuk bersatu…Dan bukan pula penghalang bagi kita untuk hidup dalam keharmonisan, saling menghormati, saling membantu dan membangun solidaritas sosial yang kokoh.

Semua perbedaan itu, tidak harus diseragamkan … tidak juga harus ditiadakan…atau bahkan dilenyapkan.

Semua perbedaan dan keragaman itu justru harus diikat oleh tali-tali persaudaraan, tali-tali kebersamaan dan tali-tali persatuan Indonesia.

Dalam mengelola keragaman, mengelola kemajemukan kita bersyukur…memiliki Pancasila… kita juga bersyukur memiliki Sesanti, Bhinneka Tunggal Ika.

Pancasila sebagai dasar negara, Pancasila sebagai falsafah hidup bangsa dan pemersatu kita semua.

Kita juga mempunyai Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi pilar kebangsaan yang kokoh… untuk menjaga dan merawat Indonesia yang majemuk ini, pilar kebangsaan untuk mewujudkan Indonesia yang bersatu, harmonis dan damai.

Saya yakin dengan berpegang pada Pancasila dengan menjungjung semangat Bhinneka tunggal Ika, kita akan tetap bersatu.
Dengan bersatu, kita akan maju bersama,… sejahtera bersama… untuk menyongsong masa depan bangsa yang gemilang.
Sekali lagi, selamat Hari raya Nyepi Tahun Saka 1939. Semoga Ida Sang Hyang Widhi Wasa memberikan kedamaian dan kesejahteraan bagi kita semua.

Terima kasih,
Om Shanti, Shanti, Shanti Om
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Jakarta, 22 April 2017
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

JOKO WIDODO

Kamis, 20 April 2017

Sejarah Siwa Budha di Bali.


Sejarah Siwa Budha di Bali.

Oleh: Ida Bagus Partawijaya.

Di Bali Siwa, Budha dan Waisnawa dilebur menjadi agama Hindu Dharma yang ada sekarang di Bali oleh Mpu Kuturan.



Sementara sejarah keagamaan orang Bali sama dengan orang Tibet. Sebelum masuk agama Budha orang Tibet memiliki agama Bon. Agama Budha dan Bon, akhirnya menyatu seperti Siwa Budha di Bali.

Penyatuan itu terjadi pada masa pemerintahan raja suami istri Gunaprya Dharmapatni/ Udayana Warmadewa yang bertahta di Bali. Pada masa itu penduduk pulau Bali adalah mayoritas orang Bali Aga/ orang Bali asli, selanjutnya pendatang dari Jawa disebut orang Bali. Jadi ada orang Bali Aga dan orang Bali. Banyak sekali sekte-sekte yang ada pada saat itu yang dalam pelaksanaan pemujaan terdapat perbedaan-perbedaan satu dengan yang lainnya. Perbedaan-perbedaan  itu akhirnya menimbulkan pertentangan antara satu sekte dengan sekte yang lainnya sehingga menyebabkan timbulnya ketegangan dan sengketa di dalam tubuh masyarakat Bali aga.

Inilah yang merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya gangguan keamanan dan ketertiban di masyarakat yang membawa dampak negatif pada hampir seluruh aspek kehidupan bermasyarakat. akibat yang bersifat negatif ini bukan saja menimpa desa bersangkutan, tetapi meluas sampai pada pemerintahan kerajaan sehingga roda pemerintahan menjadi kurang lancar dan terganggu. Dalam kondisi seperti itu, Raja Gunaprya Dharmapatni/ Udayana Warmadewa perlu mendatangkan rohaniawan dari Jawa Timur. Kemudian sepakat untuk mendatangkan Panca Dewata ini atau lima orang Brahmana suci keturunan Hyang Bhatara Guru Geni Jaya Sakti atau Hyang Geni Jaya, yaitu: Mpu Gni Jaya, Mpu Semeru, Mpu Ghana, Mpu Kuturan dan Mpu Bharadah.

Kelima Brahmana ini lazim disebut Panca Dewata, Panca Tirta, Panca Pandita karena Beliau telah melaksanakan upacara wijati yaitu menjalankan dharma kebrahmanan. Dari kelima Mpu di atas Mpu Kuturan adalah yang paling berjasa dalam menata pemerintahan pulau Bali pada khususnya dan Nusantara pada umumnya.

Tentang adanya Mpu Kuturan di Bali dapat di ketahui dari 7 prasasti peninggalan purbakala, dimana disebutkan bahwa Mpu kuturan di Bali berpangkat Senopati dan prasasti itu kini berada di:

Di desa Srai, kecamatan Kintamani.
Di desa Batur, kecamatan Kintamani
Di desa Sambiran, kecamatan Tejakula Kabupaten Buleleng
Di desa Batuan, kecamatan Sukawati
Di desa Ujung, Kabupaten Karangasem
Di desa Kehen Bangli, Kabupaten Bangli
Di desa Buahan, Kecamatan Kintamani.

Sekian banyaknya prasasti sebagai fakta sejarah yang mencantumkan nama Mpu Kuturan sebagai senopati di Bali. Dalam isi prasasti-prasasti tersebut adalah sabda raja-raja yang berkuasa pada saat itu dan memberi tahukan kepada masyarakat luas bahwa Ida Mpu Kuturan adalah yang berjasa di bumi Bali ini dalam mempersatukan sekte-sekte yang ada di Bali. Raja-raja yangg bertahta di Bali pada saat itu:

Raja Gunaprya Dharmapatni/ Udayana Warmadewa yang menerbitkan prasasti pertama dan kedua.

Sri Adnyadani yang menerbitkan prasasti ketiga
Sri Dharmawangsa Wardhana Marakatopangkaja Stano Tunggadewa, yang menerbitkan prasasti keempat sampai ketujuh.
Ida Mpu Kuturan mengatakan kepada saya ada 3 sebab Beliau menetap di Bali.

Memenuhi permintaan raja suami istri yang disebut di atas, yang memerlukan keahlian Beliau dalam bidang adat dan agama, untuk merehabilitasi dan mestabilisasi timbulnya ketegangan-ketegangan dalam tubuh masyarakat Bali Aga.

Karena bertentangan dengan istri Beliau yang menguasai black magic dan oleh sebab itu istri Beliau ditinggalkan di Jawa yang kemudian dijuluki Walu Nateng Girah atau Rangda Nateng Girah (jandanya raja girah)
Sebagai bhiksuka atau sanyasa, Beliau lebih mengutamakan ajaran dharma dari pada kepentingan pribadi.

Kesempatan yang baik itu Beliau pergunakan untuk datang ke Bali, juga karena dorongan kewajiban menyebarkan dharma. Selain menjadi senopati, Beliau juga diangkat sebagai Ketua Majelis dan diberi gelar; Pakira kiran i jero makabehan. Dalam suatu rapat majelis yang diadakan di Bataanyar (Selanjutnya dibangun pura yang sekarang dikenal dengan pura Samuan Tiga, desa Bedulu Gianyar) yang dihadiri oleh unsur tiga kekuatan pada saat itu yaitu:

Dari pihak Budha diwakili oleh Mpu Kuturan yang juga sebagai ketua sidang
Dari pihak Siwa diwakili oleh pemuka Siwa dari Jawa
Dari pihak 6 sekte yang pemukanya adalah orang Bali Aga.
Dalam rapat majelis tersebut Mpu Kuturan membahas bagaimana menyederhanakan keagamaan di Bali yang terdiri dari berbagai aliran. Tatkala itu, semua hadirin setuju untuk menegakkan paham Tri Murti untuk menjadi inti keagamaan di Bali dan layak dianggap sebagai perwujudan atau manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Kesepakatan yang tercapai pada waktu itu menjadi keputusan pemerintah kerajaan, di mana ditetapkan bahwa semua aliran di Bali ditampung dalam satu wadah yang disebut Siwa Budha sebagai persenyawaan Siwa dan Budha. Semenjak itu penganut Siwa Budha harus mendirikan tiga buah bangunan suci (pura) untuk memuja Sang Hyang Widhi Wasa dalam perwujudannya masing-masing yang bernama:

Pura Desa Bale Agung untuk memuja kemuliaan Bhatara Brahma.
Pura Puseh untuk memuja kemuliaan Bhatara Wisnu.
Pura Dalem untuk memuja kemuliaan Bhatara Siwa.
Ketiga pura tersebut disebut pura Khayangan Tiga yang menjadi lambang persatuan umat Siwa Budha di Bali. Dalam samuan tiga juga dilahirkan suatu organisasi desa pakraman yang lebih dikenal sebagai desa adat dan sejak saat itu berbagai perubahan diciptakan oleh Mpu Kuturan, baik dalam bidang politik, sosial dan spiritual.

Mpu Kuturan berkata kepada saya di Bali, salah satu nama Tuhan adalah Sang Hyang Mbang atau Mahasunyi yang dalam agama Budha ada istilah Sunyata. Tahun baru di Bali (hari raya nyepi) dirayakan dengan sunyi (sunyata). Di Bali selatan, ada pura Sakenan, sementara Sakenan berasal dari kata Sakyamuni/ Buddha. Sakyamuni nama asli Sidartha Gautama. Jadi kebanyakan konsep-konsep pemujaan di Bali diambil dari Budha. Suatu contoh, bentuk meru, Mpu Kuturan mengambilnya dari bentuk pagoda Cina yang umum sebagai bentuk bangunan pemujaan agama Budha.

Dan Ida Mpu Kuturan sendiri menjelaskan bahwa konsep padmasana diambil dari Buddha Mahayana, padmasana berarti padma: bunga padma, sana: sikap duduk. Jadi padmasana berarti duduk di atas bunga padma. Sang Budha-lah yang duduk di atas bunga padma karena sang Budha adalah Awatara Wisnu yang sempurna dan yang tidak membunuh. Yang hanya memberikan kasih sayang kepada seluruh umat manusia. Kenapa harus Sang Budha ? Karena di Nusantara ini konteksnya adalah Siwa Budha, Jadi Budha bisa juga diartikan sebagai ibu/predhana, jadi pada hakekatnya Siwa Budha adalah: Sama satu manunggal.

Ida Mpu Kuturan memberikan sebuah bait suci dimana kegaiban dan keajaiban adalah sifat wujud Tuhan yang kasat mata.

Ya iku senguh tanakku sira ta nunggalaken bhuwana ngarania, nihan ta upamanta sira waneh, kalinganya kadyangganing manuk sang manon, mur tan pahelar, meleset tan pacikara, manon ndatanpamata, mangrengo tan patalingan, mangambu tan pagrana, magamelan tan patangan, lumaku tan pasuku, rumasa rasa tan paiden tan paparus ya jana prawriti, tatan panak yaya wrddhi, tan paweteng yaya membekan, tatan pecangkem yaya amangan, tatan pailat yaya mangrasani.

Artinya:

Tuhan bagaikan burung terbang dengan tiada bersayap, kian kemari dengan tiada berkepala, melihat tiada dengan bermata, mendengar dengan tiada bertelinga, membaui dengan tiada berhidung, memegang dengan tiada bertangan, bergerak dengan tiada berkaki, merasakan rasa dengan tiada berperasaan, melahirkan dengan tiada bertanda jantan atau betina, tiada bermulut namun ia dapat menikmati, tidak berlidah  tetapi dapat merasakan.
Ida Mpu Kuturan
Jadi semua sifat Tuhan tiada batasnya.


Om santi santi santi Om.

Selasa, 04 April 2017

Bhakta Prahlada


Hiranyakasipu Raja Raksasa



Hiranyakasipu adalah raja raksasa. Dia melakukan praktek spiritual dengan sangat keras, dan Deva Brahma memberinya anugrah bahwa ia tidak dapat dibunuh oleh manusia atau binatang. Anugrah ini membuatnya sombong, dan dia menteror ke tiga dunia, mengatakan bahwa tidak ada Tuhan lain selain dirinya dan semua orang harus menyembah-Nya.
           
narasinga
Ogoh-Ogoh Narasinga
Dia puya seorang putra bernama Prahlada, seorang anak religius yang selalu menyembah Vishnu ini membuat ayahnya sangat marah, ia ingin menghilangkan pemikiran. Vishnu dari pikiran anaknya, sehingga ia menyerahkan anaknya kepada seorang guru yang sangat keras untuk melatih dia agar hanya menyembah Hiranyakasipu sebagai Tuhan dan bukan menyembah Vishnu.
           
Prahlada tidak hanya menolak untuk mendengarkan sang guru, tetapi mulai mengajar siswa lain untuk menyembah Vishnu. Gurunya sangat marah dan melaporkan kepada Raja.
           
Sang Raja berlari ke kamar anaknya, dan berteriak, “Aku mendengar kamu telah menyembah Vishnu!”
            Dengan gemetar, Prahlada berkata pelan, “Ya ayah.”
            “Berjanjilah padaku bahwa kamu tidak akan melakukanya lagi!” kata Raja.
            “Aku tidak bisa menjanjikan ini itu ayah, “Prahlada langsung menjawab.
            “Kalau begitu aku akan membunuhmu, “teriak Raja
            “Tidak bisa, terkecuali diinginkan Deva Vishnu,” jawab si anak.
           
Sang Raja mencoba semua kekuatannya untuk mengubah pikiran Prahlada, tapi tak satupun berhasil.
           
Ia kemudian memerintahkan para pengawal untuk melemparkan Prahlada ke laut, berharap agar Prahlada takut berjanji untuk tidak lagi menyembah Vishnu. Tapi Prahlada tetap setia pada Vishnu dan terus berdoa kepada-Nya dalam hatinya dengan cinta dan kesetiaan. Penjaga mengikatnya ke sebuah batu besar dan melemparkannya ke dalam laut. Atas wara nugraha Tuhan, batu itu terjatuh dan Prahlada mengapung ke permukaan air dan terdampar di pantai dengan selamat. Dia terkejut melihat Vishnu di pantai.
           
Vishnu tersenyum padanya dan berkata, “Mintalah padaku apa saja yang kamu inginkan.”
           
Prahlada menjawab, “Aku tidak ingin kerajaan, kekayaan, surga, atau umur panjang. Aku hanya ingin kekuatan untuk selalu mencintai-Mu dan tidak pernah mengubah pikiranku menjauh dari-Mu.”
           
Vishnu mengabulkan keinginan. Prahlada ke istana ayahnya, raja tertegun melihatnya masih hidup.
            “Siapa yang mengeluarkanmu dari laut?” Raja bertanya.
            “Deva Vishnu,” kata si anak, polos.
            “Jangan sebut nama itu dihadapanku,” teriak ayahnya. “Di mana Deva Vishnu-mu? Tunjukan dia padaku,” ia menantang.
            “Dia di mana-mana,” jawab si anak.
            “Bahkan dalam pilar ini?” tanya Raja.
            “Ya, bahkan di pilar ini!” Jawab Prahlada yakin.
            “Kalau begitu suruh dia muncul di depanku dalam bentuk apapun yang ia inginkan,” seru Hiranyakasipu dan memecahkan pilar itu dengan senjata besinya.
           
Tiba-tiba melompat keluar dan dalam pilar satu mahluk bernama Narasinga, yang setengah manusia dan setengah singa. Hiranyakasipu, berdiri tak daya di hadapannya. Takut, ia berteriak minta tolong, tetapi tidak ada yang datang menolongnya.
Raksasa 
            Narasinga mengangkat Hiranyakasipu dan meletakkannya di pangkuannya, di mana tubuhnya di robek-robek, hingga menemui ajalnya.
           
Tuhan memberkati Prahlada karena kepercayaannya yang mendalam. Setelah kematian. Hiranyakasipu, para raksasa itu hancur, dan Deva mengambil alih dunia sekali lagi dari raksasa.
            Sampai hari ini, nama Prahlada dimasukkan di antara pemuja besar.


          Jalan kesetiaan pada Tuhan sangat mudah dilatih. Jalan ini terdiri dari pemujaan pada para Deva setiap hari, mempersembahkan buah-buahan dan bunga, menyanyikan lagu pujian (Bhajan) untuk memuji kemuliaan Tuhan, Tuhan dan mengembangkan kebiasaaan baik.

Jumat, 31 Maret 2017

Rabu, 01 Maret 2017

Manfaat Dana Punia


Manfaat Dana Punia

Manfaat ber dana punia sesungguhnya telah dijelaskan dalam berbagai kitab suci dalam agama Hindu, yaitu sebagai berikut :



Atharwa Weda III.15.6
Berdermalah untuk tujuan yang baik, dan jadikanlah kekayanmu bermanfaat. Kekayaan yang didermakan untuk tujuan luhur tidak pernah hilang. Tuhan Yang Maha Esa memberikan rejeki yang jauh lebih banyak kepada mereka yang mendermakan kekayaannya untuk kebaikan bersama.



Manawa Dharmasastra IV.26
Hendaknya tanpa jemu-jemunya berdana punia dengan penuh sradha dan bhakti yang diperoleh dengan cara dharma, ia akan memperoleh pahala yang setinggi-tinginya.


Atharwa Weda VI.81.1
Wahai umat manusia, bekerja keraslah kamu sekuat tenaga, usir jauh-jauh sifat-sifatmu yang membuat kamu melarat dan sakit. Hendaknya kekayaan yang kamu peroleh dengan kejujuran dapat bermanfaat bagi masyarakat, arahkanlah untuk perbuatan-perbuatan baik dan kesejahteraan masyarakat.

Jumat, 17 Februari 2017

Bumi Memberikan Tanah, Langit Menurunkan Hujan


Bagawad Gita III.14



Sloka Bhagawad Gita ini mengingatkan kita bahwa tanpa tumbuh-tumbuhan semua mahluk bernyawa tidak dapat melangsungkan hidupnya di bumi ini. Mengapa ? Karena bahan pokok makanan hewan dan manusia adalah tumbuh-tumbuhan. Adanya tumbuh-tumbuhan adalah Yadnya dari bumi dan langit kepada semua mahluk hidup ini.

Sloka Bhagawad Gita itu adalah Bagawad Gita III.14 yaitu :

Annaad bhvanti bhuutaani
prajnyaad annasambhavad
yadnyad bhavati parjanyo
yadnyah karma samudbhavad

artinya :

Mahluk hidup berasal dari makanan. Makanan berasal dari tumbuh-tumbuhan. Tumbuh-tumbuhan berasal dari hujan. Hujan berasal dari yadnya. Yadnya itu adalah karma. 
yayur weda

Bumi memberikan tanah. Langit menurunkan hujan untuk berkembangnya tumbuh-tumbuhan. Mengapa bumi dan langit dapat berlaku demikian. Itulah hukum Rta yang diciptakan Tuhan. Tuhan dalam kemahakuasaan-Nya menciptakan tumbuh-tumbuhan melalui hukum alamnya yang disebut Dewa Sangkara oleh para Resi. 




Karena itu umat Hindu akan memuja Tuhan sebagai Dewa Sangkara untuk memohon kekuatan jiwa dan raga dalam mengembangkan tumbuh-tumbuhan. Pada zaman industri dewasa ini, sungguh tidak mudah mengembangkan upaya agar tumbuh-tumbuhan dapat berkembang seimbang sesuai dengan hukum ekologi. Sudahkah kita menanam pohon ?

Dalam sloka Atharwa Veda X.8.31 disebutkan :

Avir vai nama dewata
rtena - aste parivrta
tasya rupena - ime vrksah
harita haritahsrajah

Artinya :

Warna hijau pada daun tumbuh-tumbuhan karena mengandung klorofil di dalamnya. Zat khlorofil itu menyelamatkan hidup. Hal ini ditetapkan Rta yang ada dalam tumbuh-tumbuhan. Karena zat itu tumbuh-tumbuhan menjadi amat berguna sebagai bahan makanan dan obat-obatan 

Dalam sloka Atharwa Veda VIII.7.10 disebutkan :

Ugra ya visa dhusanih osadhih

Artinya :

Tumbuh-tumbuhan menghancurkan pengaruh atmosfir yang beracun.

Manusia sebagai mahluk hidup yang paling serakah sering berbuat tidak adil kepada keseimbangan hidup tumbuh-tumbuhan tersebut. Untuk menumbuhkan sikap yang adil dan penuh kasih kepada teumbuh-tumbuhan, umat Hindu memohon tuntunan Dewa Sangkara sebagai manifestasi Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu, umat Hindu di India memiliki "hari Raya Sangkara Puja" , sedangkan umat Hindu di Bali memiliki Tumpek Wariga sebagai hari untuk memuja Dewa Sangkara.

Sudah selayaknya kita menjaga tumbuh-tumbuhan, pohon-pohonan, bahkan sudah seharusnya kita menanam pohon baik dipekarangan rumah ataupun dihutan yang jauh dengan tempat tinggal kita. 

Sudahkah Anda menanam pohon ? 

Senin, 13 Februari 2017

Seekor Harimau Vegetarian


Seekor Harimau Vegetarian



Suatu kali seekor Harimau betina menyerang kawanan Domba. Dia sedang hamil tua dan sangat lemah. Ketika ia melompat menyerang mangsanya, ia melahirkan seekor bayi Harimau dan mati beberapa jam kemudian.
           
Bayi Harimau dibesarkan oleh Domba. Domba makan rumput, sehingga bayi Harimau mengikuti cara mereka. Ketika Domba mengembik, bayi Harimau juga ikut mengembik seperti domba. Bayi Harimau itu berangsur-angsur tumbuh menjadi Harimau besar.


            Suatu hari, Harimau lain menyerang kawanan Domba yang sama. Harimau ini terkejut melihat ada Harimau pemakan rumput dikawanan Domba tersebut. Harimau liar itu menyerang si Harimau pemakan rumput yang kemudian mulai mengembik seperti Domba.
           

Senin, 30 Januari 2017

Kesederhanaan Dalam Upacara Adalah Mutlak


Sejarah harus dijadikan soko guru umat Hindu kedepan



Dr.Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa III. SE (MTRU). MSi dalam Dharma Wacananya menyampaikan pentingnya Membangun kemandrian ekonomi umat Hindu berlandaskan tri hita karana.
Diawali dengan memaparkan sejarah Bangsa Indonesia terutama sejarah yang berkaitan dengan kerajaan-kerajaan Hindu kuno, peninggalan-peninggalan sejarahnya, situs-situs yang telah hilang sejarahnya, yang telah terlupakan oleh generasi umat Hindu. “Sejarah harus dijadikan soko guru umat Hindu kedepan “ tegas Senator Bali ini.

Terhapus dan terdegradasinya sejarah Hindu di Indonesia cukup mengkhawatirkan beliau yang sebagai anggota DPD RI di komite III bidang budaya ini. Untuk itu beliau mengajak anak-anak generasi muda, kita umat Hindu agar senantiasa membuatkan purana-purana untuk setiap Pura yang ada saat ini. “Purana Pura sangat penting untuk kepentingan sejarah, kita harus belajar dari sejarah yang terjadi saat Kerajaan Majapahit Runtuh. Banyak Prasasti dan purana kita dihilangkan.”


Jumat, 20 Januari 2017

Selamat Merayakan Hari Suci Saraswati


Sisi Lain Makna Hari Saraswati



Oleh: Jero Mangku Danu (I Wayan Sudarma)
Om Swastyastu

“Om Sarasvati Namastubyam Varade kama rupini Vidyarambham karasyami Siddhir bhavantu me sadha Om Shri Sarasvatyai Namo Namah”

Pendahuluan

Selamat Merayakan Hari Suci Saraswati

Sebelumnya mohon maaf atas keberanian menginterpretasi hari suci Sarasvati dengan sesuatu yang lebih logika dan jika ada yang tidak berkenan untuk meluruskannya.
Setiap manusia pada kelahirannya ke dunia selalu ditakdirkan dalam keadaan bodoh/tidak tahu (Avidya). Namun dengan kebesaran Sang Hyang Widhi, Beliau menganugerahkan ilmu pengetahuan kepada umat manusia untuk merubah, melenyapkan ke-Avidya-an/ kebodohan manusia karena kelahirannya itu menjadi Vidya (Tahu).

Dengan ilmu pengetahuan itu manusia menjadi cerdas. Dan kecerdasan itulah yang membuat manusia menjadi bisa mengetahui dan membedakan mana/apa yang baik dan mana/apa yang buruk atau yang di dalam ajaran Hindu dikenal dengan istilah Wiweka.

Dengan kemampuan Wiweka yang dimilikinya itu, hendaknya manusia dapat mengaplikasikan ilmu pengetahuannya dalam tingkah laku dan perbuatan/sikap yang bersusila tinggi untuk menghindarkannya dari penderitaan dan kesengsaraan dalam kehidupannya.

Kamis, 05 Januari 2017

Penginapan Murah Dan Nyaman Selama Liburan


Catatan Perjalanan



Liburan telah tiba. Bagaimana liburan akhir tahunmu ? tentu sangat menyenangkan ya.. libur bersama keluarga tercinta, bisa jalan-jalan menikmati indahnya negeri Nusantara ini. Berkendara dengan si Ava Hip Hip menjelajah kota-kota, memberikan pengalaman pada si buah hati akan arti petualangan. Pengalaman harus dicari dan pengalaman adalah guru. Ya, kami berpetualang sambil mencintai Indonesia, belum semua pulau yang kami bisa jelajahi dan nikmati keindahannya, kenapa harus ke luar negeri ? Inilah catatan kecilku selama liburan akhir tahun 2016-2017 dengan Penginapan murah dan nyaman selama kami menjelajahi kota-kota di Jawa dan Bali.

Liburan kami menempuh perjalanan sepanjang 2.864 km, melewati 30 an kota-kota besar dan kecil di pulau Jawa dan Bali. Berangkat dari Bintaro jakarta, masuk tol terpanjang saat ini, tol Cipali, keluar Brexit Brebes Exit. Kota pertama adalah Kota Tegal, selanjutnya Kota Pemalang, Kota Pekalongan, Kota Kendal tempat makan siang kami setiap perjalanan yaitu Monggo Moro, kemudian Semarang Jawa Tengah. Kota Malang adalah tujuan kami, karena di kota ini anak kami yang pertama sedang menuntut ilmu di Universitas Brawijaya. Jadi liburan kami nikmati bersama keluarga kecil secara lengkap. Perjalanan dengan si Ava Hip Hip belum bisa tembus sampai Malang, akhirnya kami bermalam di Kota Rembang, Penginapan murah dan nyaman di Rembang itu Hotel Tiara (cukup)

Lepas dari Semarang, perjalanan selanjutnya ke Kota Demak, Kota Kudus, Kota Pati, Kota Rembang, Kota Tuban, Kota Babad, Kota Lamongan, Kota Gresik dan Surabaya Jawa timur. Melalui jalan tol Sidoarjo Gempol kami menuju kota Malang melewati kota Lawang. Perjalanan sungguh menyenangkan dapat menikmati keindahan pantai dan gunung, suasana perkotaan dan pedesaan, masyarakat Indonesia dengan aktivitasnya, seperti becak, pedati, traktor, ibu-ibu kepasar, sungguh unik dan beranega ragam aktivitas.


Kamis, 01 Desember 2016

Kalender Rerahinan Pujawali Piodalan Tahun 2017


Setiap Tahun Kerama Suka Duka Hindu Dharma Banjar Ciledug www.banjarciledug.org selalu mengeluarkan dan mencetak Dudonan Upakara / Upacara Rerahinan untuk kalangan sendiri. Dudonan ini merupakan gambaran satu tahun kedepan kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan berkaitan dengan rerahinan, piodalan, pujawali Pura se Jakarta Bogor Depok Tangerang Bekasi dan Kerawang Jabodetabek. Dudonan Upakara / Upacara Tahun 2017 yang disusun oleh Ketua Bidang Adat SDHD Banjar Ciledug berlaku sebagai informasi pembagian tugas untuk kerama suka duka di lingkungan Banjar Ciledug. Pujawali atau piodalan pada masing-masing Pura sepenuhnya merupakan hak dari Banjar pengempon Pura.

Lebih Lengkap Dudonan Upakara / Upacara Rerahinan Tahun 2017. Klik www.banjarciledug.org


Bulan Januari 2017


  • 12 Januari  2017  Kamis Paing  Dukut Tilem Sasih Kepitu
  • 21 Januari  2017 Sabtu  Umanis Watugunung HarSaraswati. Pujawali ring Pura Aditya Jaya Rawamangun Jakarta Timur. Pujawali  ring Pura Loka Arcana,  Ciangsana, Cilengsi, Bogor
  • 25 Januari  2017 Rabu  Kliwon Sinta Hari Raya Pagerwesi.
  • 26  Januari 2017 Kamis  Umanis Sinta Hari Raya  Siwaratri. (melaksanakan mona brata, upawasa dan jagra serta
  • 27  Januari  2017  Jumat Paing Sinta  Tilem Sasih Kepitu

Bulan Februari 2017

Kamis, 29 September 2016

Pura Parahyangan Kuil Dan Guru Dwara


Pura / Parahyangan / Kuil Dan Guru Dwara Dilingkungan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Banten
  1. Pura Kertajaya  Kota Tangerang
  2. Pura Merta Sari Kota Tangerang Selatan
  3. Pura Dharma Sidhi Kota Tangerang
  4. Pura Dharma Praja Kota Tangerang Selatan
  5. Pura Eka Wira Anantha Kota Serang
  6. Pura Giri Kerti Kota Tangerang
  7. Parahyangan Jagat Guru Kota Tangerang Selatan
  8. Kuil Dewi Durgha Maa Kota Tangerang
  9. Kuil Shri Battra Kaliamman Kota Tangerang
  10. Guru Dwara Guru Nanak Kota Tangerang Selatan
  11. Parahyangan Bhuwana Raksati Kabupaten Tangerang


Rabu, 24 Agustus 2016

Bhatara Kala Ngaruruh Tetadahan


Bhatara Kala Ngaruruh Tetadahan. Kaceritayang wenten pandita maparab Bhagawan Bhrgu, malinggih ring Pesaraman Bhrgu Asrama. Ida medue putra kalih diri lanang istri. Sane lanang maparab Sang Bharata, sane istri maparab Diah Adnyawati.


Ida Sang Bhatara Kala sedek Ida sungsut kebekang ring kayun, eling ring raga lacur, wireh medal ring kalaning rahina Saniscara Kliwon Wuku Wayang,minab nenten wangde Ida pacang katadah olih Bhatara Kala, reh wenten panugrahan Bhatara Ciwa pecak, "Yan ada anak embas utawi lekad di Ukun Wayange, wenang Bhatara Kala nadah. "Irika raris Sang Bharata kaparisudha olih ajin Ida, Bhagawan Bhrgu. Sangkaning kaparisuda punika Ida mapesengan Sang Sudha. Yadiastun sampun kaparisuda, taler nenten nyidayang Ida Bhatara Nilakantha, tan urungan Ida katadah olih Ida Bhatara Kala.


Senin, 22 Agustus 2016

Rabu, 29 Juni 2016

Manusa Yadnya Potong Gigi


Yadnya merupakan korban suci yang tulus ikhlas, suci bersih (tanpa leteh). Panca Yadnya merupakan aplikasi dari peruntukan secara umum kepada siapa yadnya akan dipersembahkan. 


Penyelenggaraan Panca Yadnya meliputi : 1). Dewa Yadnya, Yadnya kehadapan Tuhan dengan seluruh manifestasi-Nya, 2). Pitra Yadnya, Yadnya kehadapan para Leluhur, 3). Rsi Yadnya, Yadnya kehadapan Para Guru, 4). Manusa Yadnya, Yadnya kepada sesama Manusia dan,  5). Butha Yadnya, Yadnya yang dipersembahkan kepada Jagat atau Alam Semesta.

            Manusa Yadnya merupakan yadnya yang diberikan kepada manusia sejak dalam kandungan sang ibu hingga menjalani kehidupan berumah tangga, Grehasta. Salah satu Upacara Manusa Yadnya adalah Upacara Potong Gigi. Menurut Sastra Agama seperti Lontar Dharma Kahuripan, Lontar Siwa Samapta dan Lontar Puja Kala Pati, upacara Potong Gigi disebut Atatah. 

Dalam Lontar Tutur Kamoksan ditekankan pada teknis pelaksanaan Upacara Potong Gigi yaitu dengan memotong dan meratakan ujung-ujung enam (6) buah gigi, yaitu empat (4) gigi Seri dan dua (2) gigi Taring. Ke-enam gigi ini merupakan simbul dari enam sifat negatif yang disebut dengan Sad Ripu. Upacara Potong Gigi akan menekan dan meminimalisir bergeloranya Sad Ripu dalam diri manusia. Upacara Potong Gigi juga merupakan aplikasi dari Tri Rnam yaitu hutang manusia kepada para leluhur dengan mengupacarai keturunan atau perti sentananya.

            Suka Duka Hindu Dharma (SDHD) Banjar Ciledug www.banjarciledug.org merupakan wadah umat Hindu yang berdomisili di Ciledug kota Tangerang dan Sekitarnya. Banjar Ciledug memiliki kegiatan-kegiatan rutinitas seperti melaksanakan Pujawali Pura Dharma Sidhi, kegiatan suka-duka, dan pelayanan umat lainnya yang semuanya ini memiliki tujuan untuk meningkatkan Srada dan Bhaktinya kehadapan Ida SangHyang Widhi Wasa.

BTemplates.com



Categories

108 Mutiara Veda 3d impressions Agama Hindu Ahimsa Ajaran I Balian Putus Ajeg Bali Kesejahteraan Semu Ajeg Hindu Aji Kalepasan Aku wis nang jogja Alam Setelah Kematian Ampas Kehidupan Anak Hindu dan Gadget apara bhakti asubha karma Aswatama Atma Prasangsa AtmaTatwa Audio Satua Bali Badan Astral Badan Etheric Badan Mental Bahasa Bali Bahasa Sansekerta Bali Banjar Ciledug Banjar Rempoa Banjar Serang Banjar Tangerang Selatan Banten Banyu Pinaruh ke Segara Basa Basi Bali Beras merah putih Berfoto di Jalan Malioboro Bermeditasi dengan Mantram Gayatri Bhagavad-gita Bhagawan Byasa Bhagawan Carabhangga Bhagawan Saradwan dan Bidadari blog provokator Brahman Budaya Bali Budha Kliwon Bukan SORGA bukan NERAKA Bumi Manusia Bunga teratai Candi Borobudur catatan perjalanan Catur Asrama Catur Warna Catur Yadnya Cupak teken Grantang Da Nakonang Adan Tiange Dewa Yadnya dharma sidhi Doa Keselamatan Dresta Sima Agama Festival Wayang Internasional Gde Aryantha Soethama gitabali Hari Raya Galungan Hari Raya Nyepi Hari Suci Kuningan Heneng dan Hening Hindu Agama Terbesar di Dunia Hindu Jalan Dharma Hindu Menjawab Hukum Alam Hukum Karma I Rare Angon Istadewata Jalan Setapak Menuju Tuhan Jaman Kaliyuga jasa 3d profesional Jiwa itu adalah Brahman Jujur dan Terus Terang Kakawin Jawa kalender Bali 2017 Karma Keadilan Tertinggi Kebahagiaan Bukanlah Reaksi Kematian Kembali Lagi Sains Reinkarnasi Ketenangan Pikiran Ki Nirdon Kisah Mahabarata Kitab Sumber Abadi Tentang Reinkarnasi Kumpulan Dongeng Hindu liburan dibali Lontar Potong Gigi Manusa Yadnya Meditasi Matahari Terbit Mengapa Bali disebut Bali Merajut Ulang Budaya Luhur Bangsa Mulianya Ajaran Hindu Neraka Ngaben Ngiring Mebasa Bali Pan bagia Teken Pan Bonggan Pancaran Dharma Pandawa dan Kurawa pantai carita Pantai Salira parahyangan agung jagatkartta Pariwisata Bali Sejak 1839 Pathways to God Perang Bali Perang Puputan Perempuan dalam dunia kakawin Pidarta Basa Bali Pulau Bali Temuan yang Menakjubkan Raina Saraswati Rare Angon Rare Angon dan Catur Yajna Rare Angon Nak Bali Belog Renungan Sabda Sathya Sai Sai Baba Sang Hyang Wisnu Saniscara Keliwon Wariga Saniscara Umanis Watugunung Sarana Ngaben Sarasamuccaya Satua Bali Satua Mabasa Bali Satua Mebasa Bali Sorga Sri Krishna Sri Sadhana Taman Kanak-kanak Hindu Tat Twam Asi tembang bali the Greatest Religion in the World tips ke baduy Tirtha Amerta Tri Hita Karana Tumpek Uduh Upanisad Himalaya Jiwa Veda Sabda Suci Wacana Suci Bhagawan Sri Sathya Sai Baba Watugunung Runtuh Wayang Beber Wayang Bunraku Wayang Kheimed Shad Wayang Trenggano Cendayu Wuku Wayang Yayasan Sri Sathya Sai Baba Yayurveda yoga